Fasilitas Stasiun Bumi Jakarta
10 Oct 2014 • Dibaca : 5764 x ,

Dalam perjalanan sejarah yang cukup tua dan telah banyak mewarnai kegiatan penginderaan jauh di LAPAN. BPJ(Balai Penginderaan Jauh) Jakarta yang dahulunya Proyek Satca diawali oleh LAPAN dalam rangka untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan nasional dibidang remote sensing melalui pembangunan Stasiun Bumi Satelit Cuacanya yang pertama di Indonesia yaitu di Jakarta yang pembangunannya dimulai pada tahun 1969/70.

Stasiun bumi satelit cuaca Jakarta, tersebut beroperasi mulai 1 April 1971 dan pada saat itu berlokasi di Jalan Pemuda Persil No.1 Jakarta yang pada saat ini dipergunakan sebagai Kantor Pusat LAPAN. Stasiun Bumi tersebut pada awalnya mampu menerima data APT (Automatic Picture Transmission) dari NOAA berupa citra satelit yang dimanfaatkan untuk analisis cuaca.


Stasiun Bumi Penginderaan Jauh Jakarta Penerimaan/ Perekaman Dan Pengolahan Awal (Level IB)

 

LAPAN dalam hal ini SATCA nama ILC waktu lalu mengambil peran mulai tahun 1978 memantau kondisi lingkungan dan cuaca di wilayah Indonesia dengan menggunakan teknologi satelit , Stasiun Bumi Satelit Cuaca Jakarta tersebut terus dikembangan dengan menambahkan berbagai peralatan dan pada tahun 80an mampu menerima data HRPT NOAA dan GMS Himawari, dan lokasi stasiunnya dipindahkan ke Jalan Kalisari Pasar Rebo Jakarta. Stasiun Bumi ini sering disebut Stasiun Bumi Satca dan dari stasiun ini telah dihasilkan informasi cuaca dari satelit yang mencakup 1/3 permukaan bumi dari Data GMS dan informasi cuaca regional dari satelit NOAA HRPT.

Stasiun Bumi Satelit Cuaca tersebut yang pada reorganisasi yang pertama tahun 1990an bernama SBSLC (Stasiun Bumi Satelit Lingkungan dan Cuaca) dan fasilitas sistem penerimaan dan pengolahan data satelit digital juga dikembangkan, sehingga dapat dihasilkan informasi lingkungan dan cuaca yang lebih banyak jenisnya, lebih cepat dan lebih akurat. Adapun informasi yang dihasilkan dari SBSLC adalah hotspot untuk memantau kebakaran hutan, sebaran asap kebakaran hutan dan debu gunung berapi, informasi indek kehijauan, informasi suhu permukaan laut, liputan dan pergerakan awan.

Pada reorganisasi yang kedua pada tahun 2001, SBSLC berubah nama menjadi ILC (Instalasi Lingkungan dan Cuaca) dengan penambahan peralatan yang makin banyak serta memiliki kemampuan menerima data satelit lingkungan dan cuaca seri terbaru mulai NOAA seri 14 hingga yang sekarang NOAA seri 19, GMS yang kemudian berubah menjadi MTSAT HiRID dengan format data yang berubah serta volumenya besar dan data satelit lingkungan baru yang lain yaitu Fengyun-1C dan 1D yang memiliki keunggulan lebih baik untuk analisis oseanografi.

Selanjutnya reorganisasi ketiga pada tahun 2011 ILC (Instalasi Lingkungan dan Cuaca) berubah menjadi Bidang Produksi dan Informasi, kemudian pada tahun 2012 bergabung kedalam BPJ (Balai Penginderaan Jauh) Parepare dan dengan sendirinya bernama BPJ Jakarta. seiring dengan perkembangannya BPJ Jakarta memiliki kemampuan menerima data satelit NOAA18, NOAA19, METOP dan MTSAT HRIT sampai sekarang.



Antena MTSAT : Antena ini mulai dioperasikan tahun 2008 sampai dengan sekarang

 


Antena NOAA dan Met Op : Antena ini mulai dioperasikan dari 2013 sampai dengan sekarang

 


Antena NOAA : Antena ini mulai dioperasikan dari 1971 sampai dengan sekarang

 


Stasiun Bumi Penginderaan Jauh Jakarta Penerimaan/ Perekaman Dan Pengolahan Awal (Level IB)

 








Related Posts
No Related posts

 
© 2014 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL